Home » Renungan (Page 5)
Category Archives: Renungan
Kesejatian Kristus Raja
(Kolose 1:11-20; Lukas 23: 33-43)
Gambaran tentang seorang raja biasanya tak jauh dari status, kedudukan dan kekuasaan. Banyak orang memimpikan dan mengejar posisi tersebut di ruang publik. Namun teladan Yesus sebagai Raja bukan bicara soal itu. Yesus meneladankan nilai-nilai seorang raja sejati. Menjadi raja bukan pertama-tama soal status, melainkan soal fungsi. Bukan soal kuasa, melainkan soal nilai. Belajar dari Kristus, kita didorong untuk menunjukkan sikap empati,menegakkan keadilan, dan mengasihi tanpa kekerasan demi tugas panggilan melindungi sesama yang menderita.
Kerja dengan Cinta
2 Tesalonika 3:6-13; Lukas 21:5-19
Berbicara mengenai pekerjaan, tidak jarang kita menjumpai orang yang mengeluhkan pekerjaan yang dilakoninya. Ada yang mengeluhkan gaji yang diterima, relasi antar kolega yang kurang baik, beban pekerjaan yang dirasa berlebihan, menjadi persoalan yang banyak dilontarkan. Keluhan-keluhan seperti ini ketika tidak dikelola dengan baik, sadar atau tidak melemahkan semangat dan integritas dalam bekerja. Maka melalui bacaan leksionari kali ini khususnya bacaan II kiranya bisa mengubah dan memperbaharui semangat dan motivasi dalam bekerja.
Membangun Spirit Kehidupan
2 Tesalonika 2:1-5, 13-17; Lukas 20:27-38
Semangat adalah salah satu kunci dari keberhasilan kehidupan manusia baik secara fisik dan spiritual. Semangat dapat menjadikan seseorang meraih keberhasilan dari setiap apa yang dilakukannya, bahkan semangat jugalah yang dapat membuat hubungan seseorang dengan Tuhan semakin dekat. Namun seringkali semangat itu pudar tatkala persoalan dan cobaan hidup menerpa kehidupan manusia dan bukan hanya itu saja, si jahat juga berusaha menghilangkan semangat dari kehidupan kita sehingga kehancuranlah yang menimpa kehidupan manusia. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus kita harus sadar bahwa persoalan hidup dan tipu muslihat iblis akan terus hadir dalam hidup kita. Untuk itu kita harus dapat mempertahankan semangat kita supaya tidak padam dan tidak membawa kita dalam kehancuran.
Bertobat, Menerima Sesama
Lukas 19:1-10
Semenjak manusia jatuh ke dalam dosa, relasi manusia dengan Tuhan menjadi rusak. Semua manusia berada di bawah bayang-bayang kuasa dosa. Dengan demikian, ada kecenderungan untuk berbuat dosa. Namun bukan berarti tidak ada pengharapan. Tuhan, yang terus mengasihi manusia, selalu membuka kesempatan pertobatan. Dengan demikian manusia hendaknya selalu menggunakan kesempatan itu untuk menyatakan pertobatannya di hadapan Tuhan dan mengubah perilakunya. Hal ini kiranya selalu menuntun manusia untuk memiliki spiritualitas pertobatan yang menuntun pada kesalehan sosial.
Tekun dalam Doa dan Karya
2 Timotius 3: 14 – 4: 5; Lukas 18:1-8
Di sebuah persekutuan remaja, pendamping remaja menyampaikan akronim DOA. D: dialog, O: orang, A: Allah. Dari akronim itu pendamping menyampaikan bahwa doa merupakan dialog antara manusia dengan Allah, Sang Pencipta, Penyelamat dan Penyerta kehidupan ciptaan-Nya. Dialog bukan monolog. Dalam monolog, percakapan hanya dari satu arah. Sementara dialog merupakan komunikasi yang berlangsung di antara dua subyek atau lebih. Subyek doa adalah Allah dan ciptaan-Nya. Semuanya saling mendengarkan, saling bertutur satu diantara yang lain. Karena itu, dialog mestinya menjadi hal menyenangkan. Rasa senang dalam dialog membuat masing-masing pihak tidak jemu untuk terus bertemu dan bersama. Demikian juga dengan kehidupan doa bagi umat beriman. Dalam kamus orang beriman mestinya tidak ada kata bosan untuk berdoa. Melalui perumpamaan tentang janda yang selalu datang pada hakim agar haknya dibela, Tuhan Yesus mengajarkan tentang ketekunan berdoa.












