Home » Renungan (Page 6)
Category Archives: Renungan
Berani Meminta, Berani Bersyukur
Lukas 17:11-19
Suatu kali seorang pemuda datang pada sahabatnya dengan raut wajah suntuk. Rupanya pemuda itu sudah beberapa kali mencoba melamar kerja namun hasilnya sama, yaitu ditolak. Kepada sahabatnya si pemuda itu memohon diperbolehkan bekerja di usaha milik sahabatnya. Sabahat dari pemuda itu memiliki usaha kecil-kecilan di kotanya. Sebagai pengusaha yang melihat keberadaan sahabatnya itu, ia mengizinkan sahabatnya bekerja di tempat usahanya dengan syarat menjalankan semua aturan perusahaan. Sekalipun pemilik usaha adalah seorang sahabat, namun dalam hal kerja, semua harus mengikuti aturan. Pemuda yang tadinya tidak memiliki pekerjaan itu kini bekerja di perusahaan sahabatnya. Pada awal-awal kerja, ia tampak menjalankan semua aturan perusahaan dan rajin bekerja. Namun pada waktu-waktu berikutnya, ia mulai bolos kerja, mengabaikan peraturan bahkan melakukan korupsi. Singkat kata pemuda itu dipecat dari pekerjaannya. Ia menyesal dengan semua perbuatannya. Ia lupa saat mengiba datang pada sahabatnya dan meminta pekerjaan serta lupa mensyukuri kebaikan-kebaikan sahabatnya.
Iman dan Tindakan
2 Timotius 1:1-14; Lukas 17: 5-10
Di sebuah Pemahaman Alkitab, terdapat dialog antar peserta PA. Dialog itu bermula dari pertanyaan: Apa jadinya menjalankan pekerjaan atau tindakan hidup sehari-hari tanpa didasari dengan iman pada Allah? Seorang peserta PA berujar bahwa menjalankan hidup tanpa iman pada Allah tentu bisa. Toh manusia itu makhluk otonom, bisa melakukan semua hal dengan segala daya, kemampuan yang ada padanya. Ujaran salah satu peserta PA itu kemudian memantik serunya dialog. Benarkah manusia itu otonom? Seperti apakah sifat otonom dalam diri manusia? Manusia dicipta Allah dalam berbagai dimensi. Ada dimensi fisik, sosial, mental dan juga spiritual. Ketika seseorang mengalami sakit fisik, rasa tidak nyaman muncul dan keinginan memulihkan sakitnya fisik segera dilakukan.
Nilai Kemanusiaan Di Balik Kekayaan
Lukas 16:19-31
Orang Inggris memiliki pepatah tentang uang: uang adalah hamba yang baik, tetapi ia adalah tuan yang jahat. Pepatah itu bermakna bahwa saat seseorang dikuasai uang, ia kehilangan kendali hidup sebab uang dijadikan sebagai dewa. Uang bisa menjadi dewa karena memiliki banyak peran dalam hidup. Makan, minum, tidur, bepergian, buang air: perlu uang! Hanya (maaf) buang angin saja yang saat ini yang tidak mengeluarkan uang. Oleh karena semua hal diukur dengan uang, maka uang digunakan sebagai alat ukur hidup manusia. Mereka yang banyak uang disebut kaya. Dengan kekayaannya itu ia dipuji, dihormati. Mereka yang tidak punya uang disebut miskin. Dengan statusnya sebagai orang miskin orang-orang macam ini sering tersisih dan disisihkan dari tengah komunitas. Ketika uang berkuasa dan menguasai hidup, banyak orang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Di sinilah uang itu “punya kuasa” dan berpotensi menjadi sumber kejahatan. Tindakan jahat merupakan pengingkaran terhadap nilai kemanusiaan. Tuhan Yesus tidak mengajarkan kehidupan anti kekayaan. Ia mengajarkan tentang perlunya mengelola kekayaan dengan menghargai martabat kemanusiaan. Melalui firman Tuhan hari ini umat diajak untuk menghayati makna kekayaan dan menjadikan kekayaan sebagai sarana memuliakan kemanusiaan
Menjunjung Tinggi Laku Hidup Jujur
Lukas 16:1-13
Injil Lukas 16:1-13 berkisah tentang bendahara yang tidak jujur. Banyak orang bingung dengan kisah ini. Apalagi ketika membaca pernyataan, “Ikatlah persahabatan dengan menggunakan Mamon yang tidak jujur?” Apa maksud ‘Mamon yang tidak jujur’ di bagian ini? Apakah kita diizinkan memanfaatkan uang atau kekayaan dari cara-cara tidak benar? Kita akan menemukan jawab bila mencermati Lukas 16:1-13 secara teliti. Kisah ini terdiri dari dua bagian besar yaitu: perumpamaan (ayat 1-8) dan aplikasi dari perumpamaan itu (ayat 9-13). Dua bagian itu saling menjelaskan satu sama lain. Tindakan yang dipuji dari si tuan bukanlah ketidakjujurannya melainkan kecerdikannya. Ia cerdik mempersiapkan masa depan setelah nanti dipecat oleh tuannya dengan cara menjalin persahabatan, melepaskan bunga yang riba dan bermurah hati kepada banyak orang. Begitulah semestinya kehidupan umat Allah. Umat Allah sering kalah cerdik dalam mengelola kekayaan. Kekayaan itu sebenarnya ‘perkara-perkara kecil’ dalam hidup. Harta milik saat ini bukanlah harta sebenarnya. Kalau mengurus harta duniawi saja tidak bisa dipercaya, bagaimana mungkin bisa mengurus hal lain dengan jujur? Dengan demikian, kejujuran tetaplah menjadi bagian penting bagi semua orang. Tanpa kejujuran hidup akan dan pasti susah. Melalui pelayanan firman pada hari ini, umat diharap menjunjung tinggi nilai kejujuran serta mewujudkannya, sebab berani jujur hebat!
Merayakan Pengampunan Illahi Dalam Persekutuan
Lukas 15:1-10
BPK Gunung Mulia menerbitkan sebuah buku karangan Miroslav Volf, yang berjudul Exclusion and Embrace. Dalam buku tersebut penulis menjelaskan lebih dalam tentang arti ‘merangkul’. Disebutkan bahwa ada empat langkah ketika suatu proses rekonsiliasi terjadi, sebagai berikut :
1. Membuka Tangan
Rekonsiliasi terjadi bila ada seseorang yang berinisiatif. Membuka tangan berarti sebuah tanda mau terbuka pada sesama, tetapi sekaligus juga kesediaan untuk terluka. Bersedia malu kalau tidak ditanggapi. Pengampunan tidak akan terjadi bila tidak ada pihak yang mau membuka tangannya terlebih dahulu. Sama seperti Anak Allah yang menjadi manusia membuka diri pada dunia sebagai bukti kasih yang mau mengampuni. Harus ada yang berani berinisiatif.












