Home » Renungan
Category Archives: Renungan
Rendah Hati Tanda Anak Tuhan
Matius 21:1-11
Di tengah zaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, sangatlah sulit untuk menemukan orang yang rendah hati. Bahkan, mungkin telah ada keraguan bagi sebagian orang bahwa rendah hati sudah tidak relevan lagi pada zaman ini karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan, sehingga “rendah hati” mulai ditinggalkan oleh manusia.
Keinginan sebagian besar orang untuk “menjadi seseorang” (to become someone) dan penolakan untuk menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting, menjadi berarti dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu.
Pandangan Kristen tentang kerendahhatian sudah sangat jelas. Yang menjadi dasar sikap rendah hati dalam pandangan Kristen adalah diri Kristus sendiri, mulai dari kerendahan dalam kelahiran-Nya di kandang domba, kerendahan dalam sikap sehari-hari di masa hidup-Nya hingga kerendahan dalam pengorbanan-Nya di Kayu Salib. Kerendahan hati Kristiani juga bersifat paradoks sebagaimana Kristus katakan: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23: 11-12). Yakobus menegaskan ini dalam Yak 4: 10, “Rendahkan-lah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu”.
Percaya Allah Yang Membangkitkan
Kehidupan manusia tidak terlepas dari penderitaan. Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia seringkali diperhadap-kan dengan berbagai macam penderitaan dan peristiwa duka. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai macam persoalan kehidupannya sehingga terasa begitu berat dan sulit untuk diatasi. Kesulitan mengatasi persoalan dan beratnya penderitaan yang harus ditanggung dapat menimbulkan sikap pesimis, frustasi dan tidak berdaya. Berbagai penderitaan dan peristiwa duka dapat membuat seseorang bersikap menyerah, kalah dan tidak memiliki semangat hidup untuk bangkit dari keterpurukan.
Memasuki Minggu Pra Paska kelima ini, umat diajak untuk belajar percaya pada kuasa Allah yang mampu membangkitkan yang sudah mati dan memberi kekuatan baru untuk tidak menyerah kalah atau terbelenggu oleh berbagai penderitaan dan peristiwa duka.
Memberitakan Karya Tuhan
(Yohanes 9:1-41)
Hidup manusia sangatlah dinamis, sehingga banyak peristiwa yang harus dialami. Hidup itu juga berkembang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan. Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup bisa menjadi “bahan” untuk ditutur-kan atau diceritakan. Sekalipun tentu perlu adanya seleksi peristiwa mana yang layak untuk dituturkan karena akan memberi dampak bagi siapapun yang menerimanya. Dalam pengha-yatan iman, hidup manusia senantiasa ada dalam campur tangan Tuhan. Maka menuturkan kisah hidup, dalam pengha-yatan iman sama artinya memberitakan karya Tuhan. Di Masa Paska tahun ini kita diajak untuk mengayati pentingnya, memberitakan karya Allah yang dinyatakan dan teranyam dalam sejarah kehidupan manusia dan sekaligus diajak untuk mewartakannya.
Perjumpaan Yang Mengubahkan
Roma 5:1-11; Yohanes 4: 5-42
Perjumpaan berangkat dari kata dasar jumpa yang artinya berpandangan, bertemu muka, bersua atau berhadapan. Sementara itu berjumpa berarti ada pertemuan dan terjadi sikap saling bertatap muka, saling memandang dan interaksi. Mungkin hanya kontak mata dan hati yang bicara (menangkap kesan), namun demikian bisa jadi terdorong untuk meneruskan dalam bentuk percakapan mendalam. Perjumpaan merujuk pada sebuah kondisi yang terjadi dan mengharuskan seseorang saling bertemu muka, berhadapan dan tersedia ruang untuk berinteraksi mendalam. Demikianlah dalam berelasi dengan siapapun sebagai makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat yang majemuk, sangat mungkin terjadi perjumpaan dengan siapapun dan dalam kondisi apapun, baik dalam konteks keseharian hidup maupun melalui media sosial. Di dalam perjumpaan selalu terbuka kemungkinan dan kesempatan terjadinya banyak hal, baik yang berpengaruh positif maupun negatif.
Perjumpaan dapat mengubah sikap seseorang makin kuat dalam relasi sosialnya. Salah satu ukuran keberhasilan dalam berelasi sosial dan berdialog dengan masyarakat yang majemuk menurut Muhamad Ali (2003) yaitu menguatnya aspek “social trust”, yakni kepercayaan kedua belah pihak yang tumbuh secara natural oleh karena dua syarat yang sudah terpenuhi. Pertama, “rasa percaya” pada yang lain sekalipun berbeda latar belakang dan keagamaannya. Kedua, sikap “percaya diri” dalam menjalani kehidupan religiusitas keagamaannya sehari-hari, tanpa lagi berada dalam bayang-bayang dikotomi mayoritas-minoritas di masyarakat. Demikian juga sikap terbuka terhadap tetangga yang berbeda, mau mendoakan sekalipun berbeda agama dan budaya, mau mengucapkan selamat kepada yang berbeda, dan yang terpenting mau bekerjasama untuk mengatasi persoalan kemanusiaan bersama-sama.












