Home » Renungan (Page 15)
Category Archives: Renungan
Merawat Tunas Damai
Lukas 21:25-36
Masa Adven dan Natal tahun ini merupakan masa Adven dan Natal yang spesial, sebab di tahun 2019 nanti, kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi. Tahun 2019 menjadi tahun politik bagi bangsa kita. Tantangan terbesar di tahun politik adalah bagaimana kita sebagai bangsa harus tetap menjaga kedamaian, di tengah berbagai perbedaan pilihan politik yang kita miliki.
Belajar dari pengalaman yang telah terjadi di beberapa kesempatan pemilihan umum, tak jarang kita menjumpai kenyataan di mana kedamaian terganggu di kala pesta demokrasi berlangsung. Bahkan tak jarang sebagian dari kalangan kita, ada yang ikut andil dan terlibat dalam menciptakan keresahan-keresahan di tengah masyarakat.
Pemimpin yang Melayani Bukan yang Mencari Kedudukan
(Yohanes 18:33-37)
Hari ini Minggu, 25 November adalah merupakan Minggu Trinitas atau merupakan pengujung dari kalender gerejawi. Pengujung kalender gerejawi mempunyai pemahaman bahwa Tuhan Yesus adalah Raja Alam Semesta. Pengakuan ini juga memperjelas bahwa Tuhan Yesus adalah raja diatas segala raja. Umat harus mengakui bahwa pembahasan tentang gelar Yesus sebagai Raja kadang mirip subtansi pembahasan Yesus sebagai Tuhan, sebab gelar Yesus sebagai Tuhan menunjuk kepada pengertian: tuan, guru, majikan, pemilik. Dengan kata milik ini bisa dipahami bahwa Kristus adalah Sang pemilik kehidupan umat manusia. Di samping itu ada gelar Yesus yang paling akrab dalam penghayatan iman umat Kristen adalah sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kedua gelar ini sudah menjadi rumusan pengakuan iman. Oleh karena itu, umat secara pribadi diajak untuk memperdalam pengakuannya bahwa Tuhan adalah raja hidupnya. Sehingga dengan demikian, umat dituntut untuk menjalani hidup sehari-hari dengan pengakuan Tuhan adalah Raja. Tuhan yang adalah Raja melakukan pelayanan yang sangat luar biasa
Menjadi Bintang Kehidupan
(Markus 13:1-8)
Bintang di langit, meskipun nampaknya kecil tetapi dapat menjadi penerang, petunjuk arah dan juga pergantian musim bagi manusia. Ternyata bintang yang nampak kecil tersebut adalah sebuah tata surya yang sangat besar, bahkan ada yang melebihi matahari. Menjadi bintang kehidupan adalah suatu gambaran atau metaphor yang menunjuk pada orang yang memiliki kebijaksanaan dan hidupnya menjadi penerang yang telah menuntun banyak orang hidup dalam kebenaran (Daniel 12:3). Pada akhir zaman orang-orang yang menjadi bintang kehidupan adalah orang yang tercatat dalam kitab kehidupan, mereka akan hidup dalam kebahagiaan kekal.
Berbagi Hidup dengan Sesama
(Markus 12: 41-44)
Berbagi hidup dalam kelimpahan tentu lebih mudah daripada berbagi dalam kekurangan. Untuk bisa berbagi sekalipun diri sendiri berada dalam kekurangan dibutuhkan kesadaran bahwa berbagi sesuatu kepada orang lain tidak akan membuat kita rugi. Sebaliknya, kita justru akan mampu belajar tentang rasa syukur dan sikap murah hati. Di samping itu, Tuhan sang pemilik kehidupan pasti akan mencukupkan setiap kebutuhan kita, ketika kita mau berbagi hidup dengan orang lain. Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi, karena tak sedikit orang yang sudah memiliki banyak kekayaan justru sulit untuk berbagi. Oleh karena itu, gaya hidup berbagi perlu senantiasa dipelajari dan diupayakan. Termasuk ketika hidup kita sendiri masih berada di dalam kekurangan. Semangat untuk berbagi hidup dalam kondisi apapun terinspirasi oleh tindakan Allah sendiri yang telah berbagi hidup dengan manusia di dalam Yesus Kristus.
Pribadi Yang Mencintai Firman Tuhan
(Ibrani 9:11-14, Markus 12:28-34)
Hati nurani yang bersih, yang berasal dari Allah, adalah syarat utama yang perlu dimiliki setiap orang percaya untuk dapat mencintai Firman Tuhan dengan baik. Dan orang percaya yang mencintai Firman Tuhan karena hati nurani yang demikian akan membuat mereka menikmati kebahagiaan berupa: hidup yang tidak bercela, tidak akan mendapat malu, dapat bersyukur dengan hati jujur, dan tidak akan ditinggalkan oleh Tuhan
Dalam Ibrani 9:11-14 menggambarkan peran Kristus sebagai Imam Besar. Sebagai Imam Besar, Kristus telah melintasi kemah yang lebih besar dan lebih sempurna. Dibanding dengan para imam pada umumnya yang masuk ke tempat kudus dengan membawa darah dari hewan yang dikurbankan, Kristus justru melakukan yang lebih baik, yaitu dengan membawa darah-Nya sendiri sebagai kurban persembahan. Mengapa darah Kristus dikatakan lebih baik dibanding dengan darah hewan kurban? Sebab darah hewan kurban hanya dapat menguduskan mereka yang najis secara lahiriah. Sedangkan darah Kristus justru sampai menguduskan hati nurani. Dengan hati nurani yang suci inilah manusia akan terhindar dari berbagai perbuatan yang sia-sia dan bahkan memampukan manusia untuk beribadah kepada Allah yang hidup. Dikaitkan sesuai tema khotbah, hati nurani yang bersih dan suci adalah prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin mencintai Firman Tuhan. Atau dengan kata lain, kemampuan setiap orang dalam mencintai Firman Tuhan sangat ditentukan oleh seberapa bersih dan suci hati nuraninya. Sebab dengan hati nurani yang bersih seseorang akan mampu mendengar apa yang hendak Tuhan katakan dengan tajam.












