Home » Renungan (Page 14)

Category Archives: Renungan

Merasakan dan Membagikan Terang

(Yesaya 60:1-6; Matius 2:1-12)

Gelap sering diartikan sebagai situasi ketiadaan cahaya. Intensitas kegelapan diukur menurut kehadiran cahaya. Semakin sesuatu disebut gelap berarti semakin sedikit cahaya hadir dalamnya. Atau juga dalam kategori baik – buruk. Seorang teolog besar abad pertengahan St. Thomas Aquinas menyebut bahwa keburukan dimaknai sebagai kekurangan kebaikan (privatio boni). Definisi serupa bisa diterapkan pada fenomena dualistis lainnya, yaitu dalam sifat Ada-Tiada.

Continue Reading →

Bertumbuh Dalam Kasih Allah Dan Sesama

( Lukas 2 : 41-52 )

Sebagai orang beriman, kita patut bersyukur karena Tuhan menempatkan kita di tengah bangsa yang beragam yang memiliki ideologi pemersatu. Pancasila menjadi pengikat yang penting untuk menjaga bangsa ini tetap melanjutkan kehidupan di tengah segala perbedaan. Pancasila menempatkan sila pertama “Ketuhanan Yang Mahaesa” sebagai awal dari rangkaian pengharapan bersama para anak bangsa. Bagi orang beriman, “Ketuhanan Yang Mahaesa” mengajak kita untuk memahami dengan tepat identitas kita selaku orang-orang yang dikuduskan dan dikasihi Tuhan. Orang-orang yang dianugerahi relasi khusus dengan Tuhan, bahkan disebut sebagai anak-anak Allah. Pemahaman identitas ini mendorong kita untuk melakukan pilihan-pilihan sikap dalam rangka turut serta mewujudkan kehidupan berbangsa yang adil dan beradab, yang bersatu, yang berhikmat dan bijaksana dalam bermusyawarat, serta yang berkeadilan sosial. Orang-orang yang beriman diajak untuk bertumbuh dalam kasih Allah, sekaligus pada waktu yang sama bertumbuh dalam kasih kepada sesama. Perspektif pada diri sendiri dan pandangan dari orang lain tidak seharusnya melemahkan semangat orang beriman untuk bertumbuh membagi kasih. Melalui pemberitaan firman pada hari ini, warga gereja diharap mengerti makna identitas diri sebagai orang-orang yang dikasihi Allah dan sesama. Atas dasar pemahamannya itu warga gereja diajak untuk hidup dengan identitas diri sebagai manusia baru di tengah kebhinnekaan Indonesia. Selamat bertumbuh dalam kasih Allah dan sesama di bumi Pancasila.

Continue Reading →

Peneguhan Karya Damai Melalui Perjumpaan

(Ibrani 10:5-10; Lukas 1:39-45)

Dalam kehidupan bersama, seseorang tidak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri. Dalam hidup bersama terjadi perjumpaan. Perjumpaan membuat seseorang menyesuaikan diri dengan orang lain. Perjumpaan juga dapat membuat seseorang diperlengkapi, dikuatkan dan disempurnakan. Tetapi akhir-akhir ini justru tidak setiap perjumpaan membuat sesorang menyesuaikan diri. Alih-alih diperlengkapi atau dikuatkan, malah perjumpaan menjadikan kebencian. Hal yang lebih mengherankan lagi justru dilakukan oleh orang-orang yang kelihatan hidupnya saleh.

Continue Reading →

Berkarya dengan Kudus dan Gembira

(Lukas 3: 7-18)

Berkarya bisa dipergunakan sebagai sarana dan wahana mengungkapkan jati diri. Jati diri orang yang bersyukur atas kasih karunia dari Tuhan. Banyak karya dihasilkan seseorang atau sekelompok orang karena kecintaan dan jiwa yang dekat dengan Tuhan, misalnya, karya seni suara dan karya musik. Karya yang dipergunakan sebagai wujud pemujaan dan penyembahan kepada Tuhan Allah Yang Mahabaik. Berkarya dapat juga menjadi alat mengungkapkan jiwa yang selalu ingin dekat dengan Tuhan.

Dalam kerangka menantikan kedatangan Tuhan pada masa Adven ini, banyak karya dihasilkan oleh Jemaat. Baik karya seni, karya kriya atau kerajinan tangan, maupun karya pelayanan sosial. Semua dipersembahkan bagi Tuhan dan sebagai alat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah. Berkarya di masa penantian kedatangan Tuhan dapat menjadi sumber inspirasi yang segar dan membangun. Masa penantian bukanlah masa berdiam dan berpangku-tangan. Pada masa penantian, umat Allah dipanggil melaksanakan karya kongkret, sebagai buah pertobatan, dalam bentuk berbagai karya yang berguna bagi sesama, untuk memuji Tuhan Allah.

Continue Reading →

Dalam Pertobatan

(Lukas 3:1-6)

Henri Nouwen dalam bukunya “Making All Things New: An Invitation to The Spiritual Life”, menggambarkan sebuah pertobatan sebagai sebuah aktivitas meninjau kembali atau menelaah tindakan-tindakan yang pernah diperbuat dan jika ada kesalahan, maka seseorang diajak untuk menyesali kesalahan-kesalahan pada masa lampau yang disertai dengan komitmen untuk berubah menjadi lebih baik. Pada intinya pertobatan adalah proses mengevaluasi diri, dan berkomitmen membaharui diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan pengertian ini kita tidak bicara pertobatan hanya berkaitan dengan sebuah tindakan salah atau jahat yang dilakukan seseorang, melainkan juga bicara soal menemukan hal-hal lebih baik dalam hidup ini.

Continue Reading →

Agenda Kegiatan

Ibadah Minggu Online : Setiap Hari Minggu jam 08.00 WIB livestreaming di channel Youtube GKJ Wonosari Gunungkidul dan Radio Swara Dhaksinarga 89,9 FM

Persekutuan Doa Rabu Pagi : Setiap Hari Rabu jam 04.30 WIB di Gedung Gereja

Links

Kontak

GKJ Wonosari Gunungkidul
Jl. Gereja No. 11-12 Wonosari, Gunungkidul, DIY, 55812, Telp : (0274) 391 146
No. Rekening BRI a.n. GKJ Wonosari : 0153-01-001186-56-7

Jadwal Ibadah Induk

06.00 BAHASA INDONESIA

08.00 BAHASA JAWA

16.30 BAHASA JAWA

18.30 BAHASA INDONESIA

Jadwal Ibadah Panthan

PANTHAN BENDUNGAN 07.00 WIB BAHASA JAWA (Minggu I Bahasa Indonesia)

PANTHAN RANDUKUNING 07.00 WIB BAHASA JAWA (Minggu II Bahasa Indonesia)

PANTHAN NGLIPAR 07.00 WIB BAHASA JAWA (Minggu II dan IV Bahasa Indonesia )

PANTHAN KEBONJERO 07.00 WIB BAHASA JAWA (Minggu I Bahasa Indonesia)

PANTHAN HARGOMULYO 08.00 WIB BAHASA JAWA (Minggu II Bahasa Indonesia)

Powered by WordPress / Academica WordPress Theme by WPZOOM