Home » Renungan (Page 13)
Category Archives: Renungan
Siap Dipanggil Berkarya
1 Korintus 15:1-11; Lukas 5:1-11
Ibadah dan kegiatan rohani lainnya bisa menjadi rutinitas tanpa makna. Namun ketika Ibadah dan kegiatan rohani tersebut sungguh-sungguh dihayati maka akan menjadi perjumpaan spiritual dengan Tuhan. Orang yang mengalami perjumpaan spiritual dengan Tuhan pasti akan merasa terpanggil melayani. Orang tersebut tidak bisa tinggal diam karena ada panggilan yang kuat yang menggema didalam dirinya.Tuhan bisa saja bertindak tegas bagi umat yang senantiasa mengeraskan hati dan tegar tengkuk. Kondisi umat ketika Nabi Yesaya dipanggil menjadi pembelajaran supaya lebih peka mendengarkan suara Tuhan.
Banyak orang yang tidak mempercayai kebangkitan Yesus Kristus. Bukan hanya orang-orang dari agama lain, tetapi juga beberapa aliran Kristen, misalnya dosetisme yang meyakini bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh mati sehingga juga tidak sungguh-sungguh bangkit. Dari dulu ternyata kebangkitan Yesus sudah menjadi perdebatan. Tetapi kebenaran tidak dapat terus-menerus disembunyikan oleh manusia. Kebenaran harus dinyatakan, diberitakan, dan diungkapkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa dirinya adalah saksi dari kebangkitan Yesus, sekalipun ia adalah yang terakhir dan banyak rasul-rasul lain yang telah memberitakan terlebih dahulu dan membuat banyak orang percaya. Sebelumnya Paulus adalah Saulus si penganiaya jemaat Tuhan yang tentu tidak percaya pada Injil Yesus Kristus. Namun kemudian karena karya Tuhan ia menjadi percaya dan menyerahkan hidupnya bagi pekerjaan pelayanan sebagai saksi kebangkitan Yesus.
Mengejar Kasih
(Lukas 4:21-30)
Setiap warga gereja sebenarnya dilengkapi dengan potensi masing-masing. Namun yang sering kali terjadi adalah jemaat memilih diam dan pasif, tidak memanfaatkan potensi itu. Tidak sedikit yang menolak ketika mendapatkan kesempatan untuk melayani Tuhan. Misalnya menolak ketika dijadikan Penatua/Diaken, Panitia, Guru Sekolah Minggu, dll.
Kecintaan kepada Tuhan dan sesama akan mendorong orang-orang percaya untuk berani menanggapi panggilan Tuhan. Ketika gereja membutuhkan maka ia akan merasa terpanggil dan terbeban untuk melayani Tuhan.
Berkarya Berlandaskan Firman
Lukas 4:14-21
Pengalaman menghayati hidup dalam penyertaan firman Tuhan dialami oleh seorang bernama Arabella Katherine “Kate” Hankey. Ia lahir 12 Januari 1834 di Clapham, Middlesex, Inggris dan meninggal pada tanggal 9 Mei 1911 di London, Inggris. Meski bukan seorang misionaris, Hankey senang memberitakan injil kepada pekerja-pekerja perempuan di pabrik. Ia sadar bahwa mereka yang bekerja di pabrik itu butuh penguatan dari Allah. Melalui Alkitab itulah mereka bisa bertahan dalam menghadapi kerasnya hidup. Ketika Hankey berumur 30 tahun ia mengalami sakit yang sangat serius dan ia disuruh oleh dokternya untuk beristirahat selama 20 bulan. Meskipun ia harus berbaring di atas ranjang selama itu ia tidak lantas berhenti dari “hobinya” tersebut. Dalam kondisi tersebut ia menulis puisi yang sangat panjang. Puisinya berisi tentang kerinduan dia dalam memberitakan kabar sukacita atau menuturkan cerita mulia yaitu Yesus dengan kemuliaan dan Kasih-Nya. Puisi Hankey terdiri atas 2 bagian yaitu “The Story Wanted” dan “The Story Told”. Dari puisi ini terciptalah sebuah lagu yaitu “I Love To Tell the Story” sekitar 10 bulan setelah puisi ini diselesaikan. Ia juga membuat nadanya meskipun mengalami beberapa koreksi ketika diiringi dengan musik. Inilah KJ 427:1
Mengalami Kelimpahan Allah
(Yohanes 2:1-11)
Yesus adalah Mesias, Sang Juru Selamat. Keselamatan dari Allah adalah berkat yang tak ternilai harganya. Terkadang kita lupa akan hal itu. Mengapa demikian? Karena banyak orang menghayati berkat dalam hidup hanya berupa hal-hal yang terkait dengan materi (kekayaan, jabatan, kesehatan, dsb). Keselamatan dalam Kristus adalah berkat yang tak terhitung jumlahnya. Keselamatan adalah kasih karunia Allah yang diberikan pada umat karena umat tidak berdaya mewujudkan dengan dayanya sendiri. Jika dikaitkan dengan Injil Yohanes 2:1-11, keselamatan dari Allah itu ibarat keberadaan tuan pemilik pesta yang tidak berdaya saat anggur di pestanya habis, namun tiba-tiba datanglah sumbangan anggur dalam jumlah banyak dan kualitas baik. Tak diduga, namun ada dan berlimpah. Dengan demikian keselamatan yang merupakan berkat itu mesti dibagikan. Kesediaan berbagi hidup muncul ketika hati penuh kelimpahan. Kelimpahan bermakna terbukanya diri memberi yang terbaik pada sesama karena dirinya merasa mendapat banyak pemberian dari Allah.
Menghayati Hidup Seperti Yesus dan Yohanes Pembaptis
(Lukas 3:15-17,21-22)
Hari ini kita merayakan Minggu Pembaptisan Yesus. Dalam tahun liturgi, Minggu Baptisan Yesus masuk pada Minggu biasa dan dihayati setelah Minggu Epifane. Melalui peristiwa pembaptisan Yesus, kita belajar dari Yesus dan Yohanes Pembaptis. Yesus yang adalah Allah merendahkan diri-Nya. Tindakan perendahan Yesus dilakukan melalui kesediaan-Nya dibaptis bersama-sama dengan umat yang berdosa dan membutuhkan pengampunan dosa.
Continue Reading →













