Home » Renungan (Page 2)
Category Archives: Renungan
Kasih Allah Menyelamatkan
Roma 4:1-5, 13-17; Yohanes 3:1-17
Kebaikan belum tentu diterima, apalagi kebenaran. Hal ini terjadi karena suatu kebenaran sering terlihat tidak baik dan tidak menyenangkan. Namun apabila seseorang dapat meneri-ma dan memercayai kebenaran, maka ia akan menemukan kebaikan. Contoh: pada masa lalu pengendara sepeda motor merasa terbeban kalau harus memakai helm. Mereka memakai helm hanya kalau melintasi jalan-jalan protokol yang sering ada polisinya. Banyak orang tidak menyadari pentingnya memakai helm saat mengendarai sepeda motor. Namun sekarang saat semua orang mengerti pentingnya memakai helm, mereka menjadikan helm sebagai suatu riding fashion style (gaya pakaian berkendara).
Orang telah menemukan kebaikan dalam memakai helm. Untuk memercayai suatu kebenaran memang diperlukan proses. Masing-masing orang bisa mengalami pro-ses berbeda untuk percaya dan menerima kebenaran tersebut. Bahkan ada orang yang tidak pernah sampai pada titik percaya dan menerima kebenaran itu karena telah menutup pintu hatinya sejak semula.
Melangkah Bersama Tuhan
Matius 4:1-11; Roma 5: 12-19
Di Minggu ini secara khusus umat diajak untuk menghayati bagaimana manusia dapat diperdaya iblis dan mengambil keputusan melawan perintah Tuhan. Manusia jatuh dalam dosa yang berakibat segala keturunannya jatuh dalam dosa dan kematian. Namun Allah tidak membiarkan manusia dalam dosa. Melalui ketaatan, Yesus Kristus sebagai Adam kedua (Roma 5: 12-19) telah mengalahkan setiap pencobaan. Selanjutnya Kemenangan Kristus atas kuasa maut menjadi jalan masuk bagi pembebasan seluruh umat manusia.
Pada dasarnya peristiwa manusia jatuh dalam dosa, memberi pemahaman bahwa manusia telah mengalami hidup yang paling rendah, mengalami kemunduran dan kemerosotan secara moral. Manusia berada di jurang terdalam. Manusia tak berdaya untuk naik merayap, sejengkal pun tidak, ke tempat yang lebih tinggi, tanpa kasih karunia Allah. Manusia telah mati karena dosa (… jangan kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau akan mati – Kej 2:17), dan Allah ternyata dengan kasih-Nya tetap sedia memberi kesempatan agar manusia memperoleh kembali hidupnya dengan penyertaan dan janji-Nya. Di dalam totalitas kasih Allah di dalam Sang Juruselamat, peristiwa pencobaan Yesus telah mengingatkan kita pada gagalnya manusia untuk percaya dan taat pada Allah. Kita belajar dari kunci keberhasilan Yesus yang berhasil menang atas pencobaan yang dialami-Nya, yaitu ketaatan/kesetiaan-Nya dalam berpegang pada Firman Allah.
Kuduslah, Sebab Aku Kudus
Matius 17:1-9
Salah satu dari sekian banyak panggilan hidup beriman adalah berkaitan dengan kekudusan. Meski demikian. Di satu sisi, kekudusan acap menjadi standar yang ditetapkan bagi manusia yang berelasi dengan Tuhan. Namun, di sisi lain, kekudusan dipandang sebagai sebuah kemustahilan di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia. Undangan Yesus bagi tiga orang murid untuk menjadi saksi peristiwa transfigurasi memberikan pemahaman baru mengenai kekudusan, yang memengaruhi cara manusia berelasi dengan Tuhan, termasuk di dalam hidup beriman beserta dengan segala macam hal yang menyertainya. Oleh karena itu, perlu ada pemaknaan ulang akan kekudusan di dalam upaya untuk memahaminya sebagai cara
Tuhan untuk menyapa manusia. Kekudusan perlu dipahami dalam kerangka anugerah Tuhan kepada manusia. Selanjutnya, orang yang menerimanya diajak untuk mewujudkannya dalam kehidupan bersama dengan sesama.
Membangun Pemulihan Relasi
1 Korintus 3:1-9; Matius 5:21-37
Hukum/aturan dibuat, pada dasarnya, adalah untuk menciptakan keteraturan kehidupan. Mengapa untuk mengatur kehidupan diperlukan aturan? Kehidupan memerlukan aturan karena setiap manusia memiliki kebutuhannya masing-masing. Jikalau tidak diatur maka setiap manusia akan memenuhi kebutuhannya dengan semaunya sendiri, yang dapat menyebabkan kekacauan. Dalam kehidupan agama, peraturan/hukum juga sangat dibutuhkan. Setiap agama tentu memiliki aturan/hukum masing-masing dalam rangka membangun kehidupan bersama. Tidak terkecuali agama/iman Kristen.
Menghadirkan Kebaikan dalam Kehidupan Bersama
1 Korintus 2 :1-16; Matius 5:13-20
Kebangkitan agama di Indonesia membuat pelaksanaan ritual (ritus) semakin meningkat,tetapi tidak dibarengi dengan meningkatnya aksi (aktus). Kebangkitan agama di Indonesia juga akan meningkatkan sense of identity (rasa identitas) yang justru akan semakin menajamkan perbedaan antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya. Pola kehidupan keagamaan yang seperti ini lebih cenderung menekankan bentuk kesalehan pribadi ketimbang kesalehan komunal. Kalaupun ada kesalehan komunal, sifatnya sangat terbatas. Dalam situasi seperti ini, umat Kristen terpanggil untuk membangun kehidupan yang lebih terbuka. Umat Kristen terpanggil bukan hanyauntuk mengembangkan kesalehan personal, tetapi, lebih dari itu, untuk memiliki kesalehan komunal, yaitu kesadaran lingkungan dan menjadi bagian dari lingkungan. Tuhan Yesus mengkritik model kesalehan personal dan mengajak murid-murid-Nya untuk memiliki kesadaran sosial. Garam dan terang menjadi perumpamaan tentang umat yang harus menjadi bagian dalam kehidupan bersama. Penghayatan akan relasi dengan Tuhan (ritual) harus diwujudkan dalam bentuk kehidupan bersama dengan sesamanya (aksi).












