Home » Renungan (Page 11)
Category Archives: Renungan
Persahabatan Yang Memberdayakan
Lukas 24:13-49
Adalah hal menarik jika Paskah tahun ini diadakan bertepatan dengan hari Kartini. R.A. Kartini dikenang sebagai pemberdaya perempuan, yang pada waktu itu terpinggirkan. Pemikiran Kartini yang memberdayakan perempuan nampak dalam kumpulan surat-suratnya yang kemudian diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Th. Sumartana, teolog yang banyak berkecimpung dalam dialog lintas iman, memasukkan pergumulan Kartini dalam salah satu bab disertasinya yang berjudul: Mission at the Crossroads (diterbitkan BPK Gunung Mulia, 1991). Menariknya, peminggiran itu, bagi Kartini, dilakukan juga melalui ajaran agama.
DamaiMu, Jembatan Dunia!
Lukas 19 : 28 – 40
Konflik identitas selalu marak dalam sepanjang nafas hidup manusia. Setiap manusia membawa begitu banyak identitas, seperti laki-perempuan, kaya-miskin, kristen-nonkristen, tua-muda, janda-duda, menikah-single, suku A-suku B, dan sebagainya. Identitas itu ada yang melekat dari lahir dan ada yang melekat karena pilihan. Identitas suku dan jenis kelamin adalah identitas yang terbawa karena kelahiran. Namun kaya-miskin, agama A atau B, janda-duda, dan sebagainya adalah identitas yang lebih mudah berubah.
Dalam sejarahnya, seringkali identitas-identitas ini membawa kehancuran kehidupan bersama di muka bumi. Adalah kenyataan jika pengelompokan/pengutuban identitas ini akan membawa ketegangan-ketegangan yang menyedihkan bagi kehidupan manusia. Jurang yang lebar dan menganga lahir karena pandangan sempit tentang identitasnya sendiri dan memandang identitas lainnya adalah musuhnya.
Cinta Kristus : Daya Gerak Solidaritas
Filipi 3: 4-14, Yohanes 12:1-8
Ada orang yang berpendapat bahwa memiliki relasi mendalam dengan Tuhan secara personal bisa membuat kita menjadi kurang peduli dengan sesama yang membutuhkan. Benarkah? Mungkin bisa saja demikian. Namun bukankah seharusnya cinta kepada Kristus secara personal justru mendorong rasa sayang kita kepada ciptaan-Nya? Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa sekarang ini banyak orang hanya beragama secara ritual semata namun tanpa hasrat kuat untuk berelasi dengan Tuhan. Benarkah demikian? Mungkin saja.
Melalui refleksi atas cinta Maria dan Paulus kepada Yesus dalam bacaan kita saat ini, kita belajar tentang betapa besarnya cinta ilahi kepada mereka serta betapa besarnya cinta mereka kepada Tuhan! Selanjutnya, cinta mereka tidak menghambat cinta kepada sesama namun justru meneguhkannya!
Sukacita Pendamaian
2 Korintus 5:16-21; Lukas 15: 1-3, 11-32
Ketika kita bicara tentang damai, biasanya hal tersebut terkait dengan situasi. Tetapi berbeda dengan kata pendamaian yang mengarah pada eksistensi proses dari adanya suatu situasi konflik menuju kondisi damai. Pendamaian bisa dilakukan dengan beragam cara, bisa dengan menghindari setiap potensi konflik, memilih mengalah kepada pihak lain, atau justru memaksa pihak lain untuk tunduk dalam keinginan kita, dan bisa dengan kompromi mengambil jalan tengah yang dikenal dengan fifty-fifty. Pendamaian tersebut bisa saja terjadi namun sangat mungkin disertai keluhan dari salah satu pihak. Maka diperlukan pendamaian melalui adanya kerja sama. Pendamaian ini dimulai dengan mengenal dasar kebutuhan tiap pihak dan bersama-sama membentuk kesepakatan sehingga terbentuklah sukacita lewat pendamaian tersebut.
Pada Minggu Pra Paskah IV ini kita akan merefleksikan sukacita pendamaian yang diharapkan Allah. Allah sebagai inisiator pendamaian kekal mengajak umat manusia untuk berkolaborasi membentuk pendamaian dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan-Nya.
Anugerah Pertobatan
(Lukas 13:1-9)
Menghakimi seseorang atau kelompok tertentu karena perbedaan keyakinan atau mazhab seringkali dengan terlalu mudah dilakukan oleh orang yang mengaku beriman. Sisi lain dari penghakiman terhadap kelompok lain adalah pembenaran terhadap diri sendiri. Mungkin kita masih ingat, gereja di Palu yang berdiri kokoh saat gempa hebat terjadi beberapa waktu lalu. Segera saja viral banyak komentar yang menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi umat-Nya. Hal itu terbukti melalui tetap kokohnya gereja itu berdiri. Sebuah pemikiran yang bukan hanya menyempitkan kasih Tuhan, tetapi juga menjadikan Tuhan sebagai sosok keji tak berperikemanusiaan pada kelompok lain.
Ketika Tuhan Yesus berkarya di antara manusia, hal yang sama juga terjadi. Dalam Injil Lukas pasal 13 diceritakan bahwa pada waktu itu beberapa orang datang pada Yesus dan menyampaikan berita tentang orang-orang Galilea yang darahnya dicampur Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Rupanya orang-orang yang datang pada Yesus dan menyampaikan berita itu menganggap bahwa orang-orang Galilea adalah para pendosa. Karena itu mereka merasa bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Pilatus pada orang-orang Galilea sebagai sebuah ganjaran atas kehidupan orang Galilea. Mendengar para murid menyampaikan hal itu, Yesus berkata, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:2-3). Bertobat adalah ajakan Yesus pada semua orang agar senantiasa mawas diri dan menghindari diri dari syak wasangka. Melalui permenungan firman Tuhan pada Minggu Pra-Paska III ini umat diajak untuk menghindarkan diri dari pemikiran buruk, syak wasangka, dan mendiskreditkan sesama atas nama apapun. Proses yang harus dilalui adalah dengan jalan pertobatan. Pertobatan merupakan anugerah Tuhan. Oleh karena itu, pertobatan haruslah menghasilkan buah.

















